Twitter FaceBook
Home
pipit Fitria Nugraha Aini piet
Apr
22
pipit Fitria Nugraha Aini piet

Kelemahan Obat Tradisional
Disamping berbagai keuntungan, bahan obat alam juga memiliki beberapa kelemahan yang merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional (OT). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain :

– Efek farmakologisnya yang lemah
– Bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta voluminers
– Belum dilakukan uji klinik
– Mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme

Menyadari akan hal ini, maka pada upaya pengembangan OT ditempuh berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk OT yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis; yaitu kelompok fitofarmaka. Akan tetapi untuk melaju sampai ke produk fitofarmaka, yaitu melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas, dan uji klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi berbagai kelemahan tersebut.

Efek farmakologis yang lemah dan lambat karena rendahnya kadar senyawa aktif dalam bahan obat alam sera kompleksnya zat balast/senyawa banar yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini bisa diupayakan dengan ekstrak terpurifikasi, yaitu suatu hasil ekstraksi yang selektif yang hanya menyari senyawa-senyawa yang berguna dan membatasi sekecil mungkin zat balast yang ikut tersari.

Efek samping tanaman obat tradisional
Dari definisi Obat Tradisional yang telah direkomendasikan DepKes, terdapat kalimat “… yang secara tradisional digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman”. Pada kata ‘secara tradisional’ tersirat makna bahwa segala aspeknya (jenis bahan, cara menyiapkan, takaran, serta waktu dan cara penggunaan) harus sesuai dengan warisan turun-menurun nenek moyang kita. Penyimpangan terhadap salah satu aspek kemungkinan dapat menyebabkan ramuan OT tersebut yang asalnya aman menjadi tidak aman atau berbahaya bagi kesehatan. Padahal jika diperhatikan, seiring perkembangan jaman banyak sekali hal-hal tradisional yang telah bergeser mengalami penyempurnaan agar lebih mudah dikerjakan ulang oleh siapapun. Misalnya tentang peralatan untuk merebus jamu, dulu masih menggunakan kuali sedangkan sekarang sudah menggunakan panci alumunium.

Secara toksikologi, bahan berbahaya adalah suatu bahan (sintetik atau alami, organik maupun anorganik) yang karena komposisinya dalam keadaan, jumlah, dosis, dan bentuk tertentu dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh manusia atau hewan sedemikian sehingga menganggu kesehatan baik sementara, tetap atau sampai menyebabkan kematian. Bahan yang aman pada dosis kecil kemungkinan dapat berbahaya atau toksik jika digunakan dalam dosis besar dan atau waktu lama, demikian juga bila tidak tepat cara dan waktu penggunaannya. Jadi tidak benar bila OT itu tidak memiliki efek samping. Sekecil apapun, efek samping tersebut tetap ada; namun hal tersebut bisa diminimalkan jika diperoleh informasi yang cukup.

Ada beberapa contoh, antara lain merica (Piperis sp) pada satu sisi baik untuk diabetes, tetapi merica juga memiliki efek samping menaikkan tekanan darah; sehingga bagi penderita diabetes sekaligus hipertensi sebaiknya tidak mengkonsumsi merica secara berlebih. Kencur (Kaempferia galanga) memang bermanfaat menekan batuk, tetapi juga berdampak meningkatkan tekanan darah sehingga tidak baik bagi penderita hipertensi. Demikian juga dengan brotowali (Tinospora sp) yang dinyatakan memiliki efek samping dapat menganggu kehamilan dan menghambat pertumbuhan plasenta.

Walaupun demikian, efek samping OT tidak bisa disamakan dengan efek samping obat sintetik/modern. Pada tanaman obat terdapt suatu mekanisme yang disebut-sebut sebagai penangkal atau dapat menetralkan efek samping tersebut, yang dikenal dengan SEE (Side Effect Eleminating Substained). Sebagai contoh, kunyit memiliki senyawa yang merugikan tubuh, tetapi juga memiliki zat anti untuk menekan dampak negatif tersebut.
Selain yang telah disebutkan di atas, ada beberapa tanaman obat yang memang berefek keras atau mempunyai efek samping berbahaya terhadap salah satu organ tubuh, antara lain :

1. Jantung –> Daun digitalis, daun oleander, daun senggugu.
2. Susunan Saraf Otonom –> Umbi gadang, biji saga, daun dan buah kecubung, daun gigil, biji jarak, daun tuba.
3. Sistem Saraf Pusat –> Daun koka
4. Sistem Pencernaan –> Biji ceguk, daun widuri
5. Sistem Pernafasan –> Kulit buah jambu monyet
6. Sistem Reproduksi Wanita (Abortivum) –> Jungrahap, jarong, daun maja, akar kelor, buah nanas muda.
7. Sistem Reproduksi Pria Penurun libido : Biji kapas, Melemahkan spermatozoa : Biji pare
8. Saluran Kemih –> Diuretik kuat : daun keji beling, meniran; Memicu batu ginjal : bayam, kubis, nanas
9. Hati –> Konfrei, arak, daun imba

Sumber :
Hermawati, Risa. Manfat, Keamanan dan Regulasi Tumbuhan Obat Alam. UPT Materia Medica. Dinkes Jatim. 2009

pipit Fitria Nugraha Aini piet
0:25
pipit Fitria Nugraha Aini piet

3 Responses to “KELEBIHAN DAN KELEMAHAN OBAT TRADISIONAL (Part 2)”

  1. fauzi says:

    mantaf… 🙂

  2. irfan says:

    lak mesti… cara ngolah obatnya lok bisa sekalian di tunjukin..

Leave a Reply

*

Subscribe RSSpipit Fitria Nugraha Aini piet
 
pipit Fitria Nugraha Aini piet
profile
Profile
Nama : Pipit
TTL : Malang, 13 Juni 1988
Alamat : Jl. Cakalang 161 C Malang, Indonesia - 65126
Web Site : http://pipit.org
e-mail : mail@pipit.org
Married to : Fauzi Alfa Alfi
pipit Fitria Nugraha Aini piet
Copyright © 2010 pipit. In collaboration with fauzi
Powered by